Desember 11, 2008

SOUL, KEMBALILAH!

Punggung itu sedang bergerak-gerak, juga rambut poni di dahinya. Anak itu duduk di bangku pendek memunggungi kedatanganku bersama Bu Mary yang bermaksud berkunjung ke rumahnya karena sudah 20 hari ini dia tidak masuk sekolah. Anak itu sedang mencuci pakaian dengan tangannya secara manual. Aku tadi sempat kaget mengetahui rumahnya yang tidak bisa dibilang bagus. Dan barusan kuketahui bahwa rumah itupun rumah sewaan.

“Soul … apa kabar…!” Sapa Bu Mary yang membuatnya kaget dan cepat berpaling ke arah suara itu. Dia memang benar-benar kaget melihat kedatangan kami yang di luar dugaannya. Aku tahu bahwa dia kaget dan bingung harus berbuat apa ketika itu. Tentu saja akupun akan kaget bila telah duapuluh hari tidak masuk sekolah dan tiba-tiba guru dan temanku akan datang ke rumah tanpa diketahui sebelumnya. Tentu akupun akan berpikir bagaimana kau harus menjelaskan alasan mengapa aku tidak masuk sekolah karena aku memang tidak sakit, bahkan aku tertangkap ketika sedang bekerja seperti ini.

“Ah Bu Mary, Aphrodite … silahkan masuk … maaf tempatnya seperti ini, silahkan duduk dulu …” dengan cepat Soul berusaha menguasai situasi yang kikuk itu. Dia dengan cepat membasuh tangannya dan menata kursi yang ada di ruang tamu yang sederhana itu.

“Tunggu sebentar ya …” kalimat Soul yang belum selesai dengan cepat dipotong Bu Mary, “Tidak usah repot Soul… duduklah di sini bersama kami.”

Soul segera duduk di seberang meja di depan Bu Mary dengan gelisah. Aku tahu, pasti gelisah.

“Soul … Ibu dan Aphrodite mewakili guru–guru dan teman-teman di sekolah untuk melihat keadaanmu. Bagaimana kabarmu?” Bu Mary memecah kebisuan sesaat itu.

“Maaf Ibu… saya lama tidak masuk sekolah…” Soul memulai bicaranya dengan kepala masih setengah menunduk.

“Ya, kenapa Soul?” tanyaku karena aku tak sabar lagi dengan jawaban itu.

“Kau lihat sendiri kan keadaan kami … aku sendirian di rumah seperti ini….” Soul menghela nafas.

“Ayahku dan kakak laki-lakiku satu-satunya sedang bekerja di luar … akulah yang harus melakukkan pekerjaan-pekerjaan rumah ini.”

“Bu Mary tahu, saya sejak masuk di kelas enam ini belum pernah sekalipun bisa membayar SPP …” Soul mengangkat wajah dan memandang Bu Mary.

“Bagaimana saya bisa menjalani hari-hari saya di sekolah kalau seperti ini … sedang kewajiban saya untuk membayar SPP-pun belum bisa kami penuhi, apalagi untuk membeli buku tulis dan cetak serta perlengkapannya…apa bisa begitu”

Diam-diam mataku menyapu sekeliling ruangan dan apa yang bisa kulihat. Aku memang tidak melihat mesin cuci, maka keherananku kenapa Soul mencuci dengan tangan terjawab sudah. Tidak kulihat ada barang-barang hiburan elektronik seperti di rumahku sendiri yang ada TV, radio, VCD/DVD player, computer dan lain-lain yang biasa kugunakan untuk menghibur diri. Kulihat lemari pendek yang usang untuk menyimpan barang pecah belah, tidak banyak yang ada di situ.

Aku memandang wajah Soul, sebenarnya tidak jelek juga anak itu. Kalau melihat sekilas, orang tidak akan mengetahui bahwa hidupnya seperti ini. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku.

“Soul … dimana Ibumu?” Tanyaku ketika Bu Mary selesai menceritakan tentang keadaan kelas dan pelajaran hingga semester ini.

“Ibuku …. Ibuku telah meninggal sewaktu aku masih kecil. Kami hanya hidup bertiga… laki-laki semua. Hanya aku yang belum bisa bekerja mencari uang… makanya aku membantu sebisaku dengan mengurus rumah agar apabila mereka pulang nanti tidak terlalu capek melihat pekerjaan rumah yang belum beres. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membantu mereka yang berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup kami sehari-hari …mereka hanya bisa bekerja sebagai pekerja kasar”

“Maaf Soul …” kataku dengan penuh penyesalan dan rasa kaget yang kusembunyikan. Aku samasekali tidak tahu bahwa Soul sudah tidak punya Ibu lagi dan kondisinya seperti ini. Aku merasa melukai hati Soul yang harus teringat lagi pada Ibunya dan kedaannya yang seperti ini.

Sementara Bu Mary dan Soul masih berbicara, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku tidak punya ayah tetapi ibuku bekerja, dan gajinya masih bisa untuk membiayai aku sekolah. Aku teringat kata ibuku bahwa hanya itu yang bisa dipersiapkan ibuku untukku menuju kedewasaan dan kemandirian. Ibuku tak bosan-bosannya membuat aku mengerti arti kebutuhan dan keinginan.

Aku ingat ketika aku menuntut memiliki handphone seperti teman-teman yang lain yang begitu canggih, ibuku menolaknya. Aku sangat marah dan kecewa waktu itu, karena aku tahu, nanti di sekolah, aku akan diolok-olok teman-temanku karena aku tidak bisa menyamai mereka. Dengan demikian mereka akan menganggap aku bukan temannya. Ibuku waktu itu justru hanya menanyakan hanphone itu buatku merupakan keinginan atau kebutuhan. Terus terang memang keinginan, karena aku sebenarnya belum memerlukannya. Satu lagi, pulsanya memang cukup mahal. Rumahku dekat degan sekolah, kalau aku memperhatikan pelajaran, aku tidak perlu setiap kali bertanya ke teman-temanku tentang PR ataupun pelajaran yang belum jelas karena Bu Guru dan Pak Guru selalu bersedia menjelaskan bagian yang belum jelas. Kalau mau ngobrol dengan temanku, aku bisa melakukannya saat sebelum masuk kelas, saat istirahat dan sepulang sekolah.

Ibuku waktu itu juga menanyakan, kenapa aku dan teman-teman ingin memiliki handphone. Jawabku waktu itu, biar trendy. Jawabanku itu dikejar ibuku dengan pertanyaan trendy menurut siapa? Ya seperti di film-film, iklan dan sinetron kesukaan itu, jawabku. Ibuku malah tertawa dan mengatakan bahwa aku sudah masuk dalam perangkap perusahaan handphone melalui caranya sendiri yaitu dengan memasang para bintang film, bintang iklan dan bintang sinetron yang tampan dan cantik itu. Lebih lanjut ibuku menjelaskan bahwa uang yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan itu terbelokkan kepada pemenuhan keinginan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Uang kami itu akan menjadi keuntungan orang-orang kaya yang memiliki perusahaan itu! Padahal kami mengejar barang itu dengan terengah-engah karena harganya. Itupun nanti kami akan ingin model terbaru yang sengaja diiming-imingkan dengan iklan, dan akan terus begitu dan begitu sampai kami kesetanan ingin terus membeli.

Bila ingat hal ini, aku jadi malu sendiri ketika aku di sini, di rumah Soul, bersama Soul yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya saja tidak bisa, saat itu aku merengek-rengek minta yang tidak perlu. Terlebih lagi, aku tidak mau memenuhi kewajibanku untuk belajar dengan sungguh-sungguh padahal ibuku sedah memberikan hakku untuk bisa mendapatkan pendidikan. “Soul, maafkan aku!” teriakku dalam hati. “Aku telah menyia-nyiakan apa yang kumiliki dan sebenarnya kau butuhkan.”

“Besok kau harus masuk ya … kami akan membantumu semampu kami” kata Bu Mary sambil tersenyum dan sekilas membelai kepala Soul.

“Kami akan berjuang bersamamu … jangan kuatir Soul … besok kami akan tunggu kamu di sekolah ya …” kataku juga dengan senyum, entah ini senyum yang manis bagi Soul atau senyum yang menyakitkan bagi Soul. Semoga Soul menganggap senyum kami ini adalah senyum yang manis yang bisa meringankan bebannya.

Hari ini sepulang dari rumah Soul, aku dan Bu Mary menjelaskan kondisi Soul yang sebenarnya. Bu Mary dengan penuh penyesalan mengungkapkan bagaimana Soul sebagai bagian dari sekolah ini telah lama tidak kita perhatikan dan sebenarnya dia amat memerlukan perhatian kita semua. Aku berterimakasih dalam hati pada cara Bu Mary mengajak kita semua untuk merasakan apa yang dirasakan oleh Soul seandainya kita menjadi Soul. Dengan begitu kita semua bisa lebih jelas lagi bahwa kita beruntung memiliki keadaan kita masing-masing, dan mensyukuri apa yang telah diberikan orangtua kita masing-masing kepada kita.

Dari penjelasan Bu Mary yang penuh simpati itu, kami semua sepakat untuk membantu Soul dengan iuran pribadi kami masing-masing untuk biaya Soul sekolah dan kami sepakat untuk tidak pernah mengungkit kesulitan dan kondisi di keluarga Soul agar harga diri Soul tetap terjaga tanpa beban. Bu Mary ternyata juga telah membicarakan hal ini kepada guru-guru lain untuk mencarikan orangtua asuh bagi Soul.

Soul, kembalilah ke sekolah, kami akan memperhatikan kamu. Kami akan membantumu, kita akan berjuang bersama-sama untuk masa depan kita masing-masing. Soul kembalilah!

Sekolah ajang pelecehan?

Oktober 29, 2008

Ga terasa kita sering melecehkan ato dilecehkan di sekolah yach…

Lupa??? Coba … inget2 yuk…

Apa kita pernah dikomentari teman kita sendiri tanpa kita minta untuk dikomentari? Apalagi komentarnya langsung berkaitan dengan apa yang ada di tubuh kita? Sebenarnya itu sangat tidak sopan… kalo kita sudah lebih dewasa lagi, bisa kena undang2 lho…

“Uwa, kakinya ….”

“Hiih, rambutnya….”

“Yay…. hidungnya …. euy!”

Pelecehan dengan kata2 sudah termasuk dalam kekerasan lho dalam UU PKDRT… kekerasan non-fisik…

Lagi pula, ntar qt malu juga lho kalo kelak orang yg kita lecehkan itu ternyata lebih unggul dari qt… Yang melecehkan mungkin lupa, tapi yg dilecehkan pasti akan ingat terus… kalo itu sangat melukai, akan membekas dalam ingatan seumur hidup…

Kalo qt ga mau dilecehkan, tentunya qt jangan melecehkan
jg donk yach…

Hello world!

Oktober 16, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!